Sunday, August 20, 2017

Persiapan sebelum persiapan pernikahan...

Hampir 1 tahun berlalu sejak post terakhir. Lama juga yah :p

Sebenarnya banyak hal-hal yang ingin saya tulis dan bagi, baik tentang cerita diri sendiri maupun sekitar. Tapiii....mumpung momennya masih berlangsung, bisa dibilang masih anget lah (hehe), saya ingin berbagi tulisan dengan topik yang sebenarnya sudah cukup mainstream.
Topik yang sebenarnya banyak yang sudah ditulis orang lain, namun ijinkan saya menulisnya dari sudut pandang saya, siapa tahu bermanfaat buat yang membaca, yaitu....

Persiapan pernikahan! Cicitcuit!

Mungkin topik di atas akan terbagi dalam beberapa tulisan, karena sejak saya dilamar (bisa lihat di cerita lamarannya si mas ) sampai sekarang, persiapan pernikahan juga masih berlangsung. Dan untuk tulisan ini, saya akan berbagi tentang persiapan sebelum persiapan pernikahan. eh, gimana gimana? 😕

Jadi begini....IMHO, seperti yang kita semua tahu, pernikahan bukan sekedar tentang dua orang yang saling mencintai, yang memutuskan untuk hidup dalam sebuah ikatan sah, baik secara agama maupun negara. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah sikap untuk siap dan ikhlas untuk menerima keluarga baru bagi masing-masing pihak, dan menyatukannya. Iya, keluarga besar. Tipically Asians, right? 😝

Jadi, persiapan pertama adalah...pendekatan keluarga.
Siap dan ikhlas menerima keluarga baru artinya mau belajar memahami karakter dan kebiasaan keluarga pasangan, menerima latar belakang keluarga pasangan, dan tentu saja...menyayangi keluarga pasangan. Ini berlaku baik untuk pihak cewek maupun cowok, yah. Yakinlah bahwa dalam pernikahan yang akan terjadi, tentu semua pihak ingin semuanya berjalan dengan baik, dan semua orang happy. Jadi, jangan pernah berpikiran bahwa pihak keluarga pasangan ingin menguasai jalannya acara, berat sebelah, dan lain-lain. Caranya? Baca kembali awal paragraf, hehe.

Jika persiapan pertama sudah dilakukan, yang kedua adalah...menyadari kemampuan dan keinginan diri dan pasangan.
Yakin deh, semua orang pasti pernah memimpikan jadi raja dan ratu sehari saat hari pernikahannya, dengan segala tetek bengek yang istimewa luar biasa membahana! 😄
Tapi....kembali lagi. Sebelum rempong mencari vendor sesuai impian, sadari dulu....
Bagaimana kemampuan finansial kita dan keluarga?
Apa hal-hal vital yang harus ada di acara pernikahan? Apa yang sifatnya optional saja?
Bagaimana rencana dengan pasangan untuk memasuki kehidupan pernikahan yang sesungguhnya?

Kenapa harus begitu? Karena (bagi saya), jangan sampai kita terlena dengan keinginan atau obsesi pribadi, untuk acara yang sebenarnya tidak menentukan kualitas kehidupan pernikahan kita ke depannya.
Jangan sampai memaksakan kemampuan sampai berhutang kanan-kiri untuk menutupi kebutuhan pernikahan yang sebenarnya bisa dihindari. Saya bukan orang yang anti berhutang jika terpaksa, tapi cenderung menghindari hutang apabila masih bisa dicari jalan lain.
Dari pemikiran di atas, kita bisa mulai berpikir hal-hal yang vital/harus ada dalam acara, misal :
- apakah akad/pemberkatan sebaiknya dilaksanakan 1 hari dengan resepsi atau tidak?
- apakah perlu ada upacara adat? Harus komplit atau cukup beberapa saja?
- apakah perlu mengundang seluruh keluarga besar atau tidak?
- dll

Jangan lupa, hal-hal tersebut sebaiknya didiskusikan dulu dengan pasangan, baru dengan keluarga. Kenapa?
Supaya ada kesamaan pendapat dengan pasangan, yang tentu bisa meminimalisir konflik antar keluarga. Sebagai contoh, pernah seorang teman curhat bahwa dia dan pasangan mengalami konflik karena dia dan pasangan membela pendapat keluarga masing-masing, tanpa mau kompromi. Seharusnya, kita dan pasangan yang berperan sebagai katalisator (halah) antar dua keluarga, bukan malah memperuncing konflik.

Kemudian yang ketiga, sepakati dengan pasangan apa yang akan dilakukan setelah sah menjadi suami istri. Tidak salah kok kalau mengimpikan honeymoon ke tempat yang superdupermevvahbinromantisabis. Tapiiii.....sesuaikan dengan budget kita. Kalau memaksakan diri, buat apa? Lebih baik pergi ke atau melakukan hal-hal yang nyaman buat berdua. Tanpa kepikiran tagihan membengkak setelahnya.
Boleh saling berjanji dan mengingatkan dulu, kalau memang sudah punya budget yang memadai (tanpa memaksakan diri), bolehlah memanjakan diri ke tempat-tempat yang zuperrr.

Persiapan keempat dan juga cukup penting dan sensitif, yaitu kesepakatan mengenai biaya.
Setelah kita sudah memahami kemampuan finansial kita dan pasangan, sebaiknya bisa dibicarakan dengan jujur sejujur-jujurnya antar kedua belah pihak. Pembagian biaya pun bisa banyak skemanya. Biasanya untuk yang kota asalnya berbeda, masing-masing mengadakan resepsi di kota asalnya, sehingga biaya mayoritas ditanggung masing-masing.
Namun untuk yang satu kota, akan lebih efektif jika menjadi 1 acara saja. Terkadang ada skema 50:50, atau sesuai tradisi Jawa, pihak perempuan mengeluarkan mayoritas biaya. Tapi kembali lagi, semua kembali kesepakatan.
Sebagai contoh, saya dan pasangan beserta keluarga menyepakati bahwa acara akad dan adat akan menjadi beban keluarga saya. Sedangkan resepsi menjadi beban keluarga pasangan. Dan kami semua happy dengan kesepakatan itu, karena apa? Karena kami semua JUJUR DI AWAL. ITU. PENTING. BANGET.

Begitulah persiapan sebelum persiapan pernikahan versi saya. Sebenarnya tentu akan ada banyak hal yang mengikuti hal-hal di atas, tapi kembali lagi ke pengalaman masing-masing. Paling tidak, 4 hal di atas adalah hal yang cukup krusial untuk dilakukan. Dan....apapun yang diceritakan orang di sekitar (terutama tentang mitos 'ujian sebelum menikah'), yakinlah bahwa segala persiapan pernikahan kita dan pasangan insyaAllah akan diberkahi kemudahan dan kelancaran, dijauhkan dari segala konflik. Aamiin!

Friday, September 16, 2016

What happens nowadays?

Sudah lama tidak produktif nge-blog, nih. Terakhir 5 Mei 2016, sudah sekitar 4 bulan lalu.
So, what happens nowadays?

Well, kalau saya bisa bilang dalam 1 kata.......BANYAK.
lots of happy stories, of course, including this introvert man. :)

Cerita lain, rencana jalan-jalan bersama teman yang (akhirnya) terwujud juga setelah beberapa kali penundaan. Will write it down, ASAP.

Hal-hal lain, hmmm....biarkan mengendap di kepala dulu sebelum saya bagikan di blog ini.

Selamat siang. Selamat ber-akhir minggu!

Thursday, May 5, 2016

Mengatur Anggaran : Menjadi Realistis, daripada Miris

Halo!

Setelah beberapa post dengan topik yang random (karena menyesuaikan dengan suasana hati, sih :p ), sepertinya saya ingin berbagi hal-hal yang (semoga saja) bermanfaat. Dan itu adalah tentang….bagaimana mengatur keuangan rumah tangga dengan efisien!


*Lah, emang situ udah berumah tangga?*

Belum, sih :p  . Tapi kan mengatur keuangan rumah tangga bukan monopoli wanita dengan status istri saja, to?

Jadi, sehari-hari saya tinggal bersama keluarga komplit, minus kakak yang sudah menikah. Nah, karena kondisi tertentu, akhirnya posisi menteri keuangan diserahkan ke saya. Tentu saja, posisi Ibu Suri tetap di tangan Ibu! :))

A. Daftar
Biasanya, saya memulai dengan membuat daftar : (1). Sumber pemasukan; (2) Pengeluaran wajib. O iya, penting untuk menyiapkan nomor rekening khusus untuk keluar-masuk dana. Jadi, tidak akan bercampur dengan dana pribadi. Bisa repot deh kaloautercampur, bisa-bisa ge er bahwa dana di rekening pribadi masih banyak dan telanjur digunakan untuk beli bedak, eh ternyata itu duit beras. Hmmm.

Untuk poin (1), apabila sumbernya dari beberapa pihak (seperti pengalaman saya), wajib dikonfirmasi kesanggupan tiap pihak, berapa nominal perbulan yang akan diberikan? Dan kapan? Karena dalam prinsip keluarga kami, masalah keuangan harus terbuka. Tidak boleh ada paksaan, tidak boleh ada yang dikorbankan. Tujuannya, agar perencanaan awal dapat serealistis mungkin. Tidak ngawur.

Untuk poin (2), saya memasukkan kebutuhan dasar seperti : belanja (sehari-hari & bulanan), iuran lingkungan, rekening air-listrik-internet-TV, gaji ART, kesehatan, dan tabungan. Kebutuhan hiburan sengaja tidak saya masukkan, karena bersifat tentatif. Dan biasanya kami, para anak, lebih memilih mengeluarkan dana pribadi kami untuk keperluan hiburan keluarga (semoga rejeki kami selalu lancar, aamiin!).

B. Penyeimbangan
Langkah berikutnya adalah, menyeimbangkan antara nilai pemasukan dan pengeluaran. Tidak lucu kan, kalau besar pasak daripada tiang.

Bagaimana kalau pengeluaran wajib lebih besar dari pada sumber pemasukan? Ya satu-satunya cara, adalah penyesuaian kembali anggaran. Dan hal ini tergantung kondisi masing-masing rumah tangga. Ada yang menyesuaikan di anggaran rekening, atau belanja, atau juga kesehatan. Tergantung prioritasnya, sih. Yang penting, sebisa mungkin hindari HUTANG!

Kenapa hindari hutang? Ya pastinya sudah jelas : hutang tetap terhitung defisit anggaran, dan istilahnya orang Jawa : mbendol mburi! Yah, semacam kesenangan sesaat yang pada akhirnya tetap harus dibayar. Duh, semoga dihindarkan dari hutang deh.

Bagaimana dengan kartu kredit? Walaupun juga berarti hutang (di dunia modern), kartu kredit bisa tetap bermanfaat tanpa membuat defisit anggaran, asalkan : (1). Limit realistis, tidak lebih dari 1/3 pendapatan bulanan; (2). Pemakaian tidak melebihi limit, lebih baik lagi kalau membatasi diri sendiri pemakaian sampai dengan nominal tertentu; (3). Pembayaran tagihan masuk dalam daftar pengeluaran wajib.

Tapi khusus kartu kredit, saya hanya menggunakannya untuk penggunaan pribadi sih, bukan rumah tangga. Entah kalau sudah menikah nanti (eh, mungkin minta dibayarin suami saja ya? :p ).

C. Siapkan Dana Tunai
Kalau sudah seimbang antara pemasukan dan pengeluaran, saya biasanya akan menyiapkan uang tunai sejumlah yang dibutuhkan dalam catatan pengeluaran.

Lho, memangnya harus tunai ya? Ya tidak juga sih. Tapi buat saya, uang tunai akan lebih mudah untuk diakses oleh penghuni rumah, mengingat sehari-hari yang ada di rumah adalah bapak-ibu yang sudah pensiun. Akan merepotkan kalau harus menunggu kami pulang di sore/malam hari membawa dana tunai sesuai yang dibutuhkan, padahal butuhnya sudah dari siang. Kalau kata Cinta sih, “Basi! Madingnya udah siap terbit!”. Lol.

Saya terbiasa menyiapkan amplop untuk masing-masing pos, supaya tidak bercampur dan lebih praktis saja sih. O iya, untuk pengeluaran yang sifatnya dibayar / dibeli melalui ATM; seperti rekening lsitrik, internet, TV, telepon; tidak saya ambil tunai. Biar tetap di rekening bank saja. Stay there, stay safe.

D. Catat
Kemudian yang paling penting adalah : CATAT!
Kenapa? Karena dengan adanya catatan keuangan, kita akan bisa mengevaluasi; apakah anggaran kita sudah realistis? Apakah ternyata bisa dikurangi, atau malah harus ditambah? Atau mungkin bisa ada subsidi silang antar pos pengeluaran?


Apabila langkah-langkah tersebut konsisten dilakukan setiap bulannya, seharusnya sih bisa lebih efisien dan lebih tenang. Tidak ketar-ketir menjelang tengah atau akhir bulan memikirkan dana yang ada, cukup atau tidak ya?

Yah, walaupun topik post ini rasanya kok 'ibu-ibu' banget, tapi penting lho! *iya-in aja lah*


Semoga saat sudah menikah (aamiin!) dan menjadi istri dan ibu nanti, saya tetap bisa konsisten menjalankannya. Asal….tidak impulsif saat melihat barang yang disuka :))

Saturday, April 16, 2016

Komunikasi (?)

Sudah lama tidak update isi blog. Sepertinya harus mengaku, bahwa itu didasarkan pada…rasa malas, hehe. Sebenarnya banyak hal-hal yang terjadi yang ingin saya angkat sebagai tulisan, namun berakhir hanya di angan. Anyway, akhirnya saya membulatkan niat (jreeeeng!) untuk mengangkat satu hal yang (menurut saya) bisa saya bagikan dalam blog ini.

Beberapa hari lalu, saya mengikuti Emerging Leader Development Program, sebuah program internal perusahaan untuk membangun karakter pemimpin dari para karyawan. Sebenarnya program ini berlangsung selama 6 bulan, dan beberapa hari lalu adalah pertemuan kedua kami dengan pemateri. Pertemuan pertama, kira-kira sebulan lalu, lebih mengarah pada pengenalan karakter pemimpin dan membuat goal. Pertemuan kedua kemarin, selama 2 hari, melatih kemampuan komunikasi kami.

Saya tidak akan menulis materi dalam program tersebut, karena [satu] tulisan ini akan menjadi terlalu panjang; [dua] saya tidak punya catatan tertulis selama pertemuan, karena memang itu bukan materi ujian atau semacamnya. Jadi, cukup didengar dan dilatih saja.

Yang ingin saya bagi adalah, dalam pertemuan ini, pemateri menyampaikan bahwa karakter saya sangat mempengaruhi cara berpikir, dan tentunya cara berkomunikasi saya dengan orang lain. Sedangkan, semua hubungan -baik pekerjaan, pertemanan, keluarga, pasangan-, mensyaratkan satu hal,
KOMUNIKASI yang baik
Ah, kalau bicara komunikasi yang baik, tentu semua orang akan merasa, “saya sudah bisa berkomunikasi yang baik, kok.” Sayapun (awalnya) berpikir begitu. Kemudian dalam pertemuan kemarin, saya berpikir ulang, “apakah saya sudah berkomunikasi dengan baik?”
Dan saya pun akhirnya menyadari. Dannn…mengakui.
Saya sudah berkomunikasi, mungkin dengan benar. Tapi tidak baik.
Mengapa tidak? Karena saya tidak mempertimbangkan karakter partner komunikasi saya. Saya terfokus pada apa yang MENURUT SAYA BENAR. Apakah itu salah? Tidak juga. Lha wong saya berniat positif kok. Menyampaikan maksud saya. Bukan marah-marah. Atau menghina. Ataupun hal-hal negatif lain.
Tapi, apakah cara saya sudah EFEKTIF?
Nah, itu dia. Yang membedakan adalah cara. Saya terindikasi berkarakter controller. Tentu harus bisa membedakan cara berkomunikasi antara dengan promoter, supporter, analyzer, ataupun sesama controller. (anyway, penjelasan tentang keempat karakter tersebut akan saya bahas lain waktu….kalau tidak malas :p )

Selain itu, terkadang juga saya melakukan komunikasi yang bersifat PERMINTAAN. Apakah itu adalah PERMINTAAN EFEKTIF, dapat terlihat dari jawaban pendengar; yaitu antara ya, tidak, atau menawarkan alternatif lain. Dan permintaan efektif, seharusnya memuat mengenai : hal yang diminta, waktu yang diberikan, alasan permintaan, dan situasi yang berlangsung ketika permintaan dibuat. Sehingga, pendengar dapat memberikan jawaban yang efektif pula, bukan yang nanggung, atau malah ‘kabur’.
Singkatnya, saya belajar sesuatu.
Bahwa apabila saya tidak mendapat tanggapan yang saya harapkan dari partner saat saya mengomunikasikan maksud saya, bukan berarti partner saya yang bermasalah. Tapi bisa jadi, komunikasi saya yang kurang efektif.

Sudahkah saya bersikap yang membuat partner nyaman saat berkomunikasi?
Sudahkah saya melihat situasi dan kondisi yang berlangsung, baik pada saya maupun partner?
Sudahkah saya berempati pada partner?

Semoga ke depannya, saya bisa semakin baik dalam berkomunikasi, dengan siapa saja.

Bahkan dengan Tuhan sekalipun.





Monday, March 7, 2016

Reminder

Kelemahan saya :
Saat mengenal orang baru dengan karakter tertentu (yang tidak akan saya bagi di sini, will keep it on my mind :p ), saya akan cenderung ber-positive thinking terhadapnya. 
Seorang teman baik pernah mengingatkan, "Luh, ada kalanya kita harus negative thinking sama orang lain. Bukan apa-apa, supaya waspada."
Saya pikir, "Ah, saya kan sudah dewasa. Masak iya ga bisa menghadapi orang yg ternyata negatif."
Nyatanya, memang bisa sih. Tapi satu paket juga dengan sakit hati, hehehe.

Nah, mengapa? Karena biasanya kalau saya sudah berpikiran positif tentang seseorang -entah sebagai pasangan, kawan, atau rekan kerja-, saya akan 'sedikit' berlebihan dalam menyikapi mereka. Misalkan, terlalu baik, terlalu 'mbelani' (saya sulit menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia, hehe), dan terlalu berharap.

Ujung-ujungnya, jika mereka tidak bersikap sebagaimana yang saya kira, saya kecewa.
Memang ada kalanya sih, mereka yang salah bersikap, atau lebih buruk lagi, memanfaatkan kebaikan saya.
Tapi ada kalanya pula, kecewa hanya karena....over ekspektasi.

Dan beberapa hal yang saya alami belakangan ini membuat saya kecewa. Hmm.

Kemudian saya curhat dengan atasan saya. Beliau masih muda, under 40, dan saya cukup nyaman bercerita kepada beliau (catatan : beliau sudah menikah, kok. Don't think too much :p )
Dari situ saya akhirnya menyadari, mungkin.....kekecewaan saya yah, semata karena saya over-ekspetasi. Berharap sesuatu yang mungkin.....tidak diijinkan Tuhan untuk terjadi. Atau belum diijinkan. Who knows.

Bisa jadi, harapan berlebihan itu muncul karena situasi pribadi saya yang, yah...begitulah. Won't share about it here.

Tapi menurut beliau pula, apabila seseorang (di usia saya) beritikad serius terhadap saya, maka it won't take a long time to make a move. At least, to show his willing to have a mature relationship with me.
Jika tidak, berarti? Ya sudah.
Sejauh, se-intens apapun saya berharap, kehendak Tuhanlah yang berjalan. Dan satu-satunya yang harus diyakini, segala kehendak-Nya adalah kebaikan.

A reminder for me :)

NB :
Beliau bercerita pula tentang istri Nabi, Khadijah, yang percaya sepenuhnya dengan Nabi saat dipersunting, dalam kondisi Nabi di masa itu yang miskin dan disebut 'gila' oleh masyarakat.
Artinya, yang terpenting dari seorang pria adalah kesungguhannya dalam membahagiakan keluarganya. Bukan apa yang dia punya, ataupun siapa dia saat ini.
Another reminder.

Friday, March 4, 2016

Untitled (2)

I believe my heart. 
It believes in you. 
It's telling me that what I see is completely true. 
I believe my heart. 
How can it be wrong? 
It says that what I feel for you I will feel my whole life long. 

I Believe My Heart - Duncan James
-Terdengar dari radio mobil saat pulang kantor, sekitar pukul 17.30, menunggu lampu merah berubah hijau-



Saya seorang extroverted introvert. Introvert yang extrovert.

Artinya, saya suka bertemu orang baru, atau membaur di lingkungan baru. Saya suka berbicara tentang diri saya, dan hal-hal normal selayaknya seorang extrovert.
Tapi akrab sekalipun tidak membuat seseorang saya tahbiskan sebagai orang yang mengetahui saya luar-dalam.
Bukan berarti saya menggunakan topeng. Hanya saja, saya merasa tidak nyaman jika harus membuka diri saya kepada orang lain yang, yah, mungkin tidak terlalu peduli dengan sosok 'saya'. Yang bisa jadi, hanya nyaman dengan saya untuk bersenang-senang saja, atau karena kesamaan hal-hal favorit semata.

Dan lama waktu mengenal bukan pula menjadi patokan keterbukaan saya terhadap seseorang. Yah biasanya, saya 'memutuskan' untuk terbuka dengan seseorang dengan cara (please don't call me cheesy :p )......percaya dengan kata hati. So naive, I know. Hehe.

Ketika hati saya berkata bahwa saya bisa terbuka dengan seseorang, maka saya percaya itu.
Jadi ketika saya baru mengenal seseorang, dan dapat terbuka dengan orang tersebut, maka percayalah bahwa saya sudah melakukan lompatan besar di luar kebiasaan saya.
Yang artinya, mungkin, orang itu cukup istimewa.

Tapi belum tentu istimewa untuk seterusnya. Karena dalam setiap 'lompatan' tersebut, selalu diikuti dengan kekhawatiran bahwa saya telah salah menilai.
"Salah ga ya? Jangan-jangan dia sebenarnya ga care, cuma yah baik aja. Jangan-jangan saya salah menilai. Jangan-jangan cuma manfaatin aja.. Jangan-jangan...."
 Dan jujur saja, apabila saya tidak menemukan jawaban kekhawatiran saya, saya akan lebih memilih untuk....berhenti.
Berhenti sejenak untuk melihat, apakah yang saya lakukan sudah benar? Apakah sudah ada jawaban? Apakah dia juga melakukan hal yang sama, berusaha untuk mengenal saya sedalam-dalamnya?

Jika masa hiatus itu butuh waktu lama dan tidak menemukan jawaban apa pun, ya sudah.

Let it go.

(Lha wong yang sudah mengenal luar-dalam dalam waktu lama, nyatanya tidak berjuang sungguh-sungguh - iya, ini curcol )


NB : and I'm still waiting.


Wednesday, March 2, 2016

UNTITLED

Sebuah tulisan yang saya ambil dari akun Facebook Denny Siregar.

Sebuah tulisan yang persis menyampaikan apa yang saya lihat dari kedua orangtua saya. Bukan sesederhana kata 'I love you' atau peluk-cium semata.
Tapi sebuah bentuk penerimaan luar biasa terhadap segala bentuk kekurangan pasangan dan ujian-ujian yang dilalui bersama. Tidak selalu indah dan mudah, karena hal-hal yang mengecewakan pun (pastinya) kerap terjadi. Dan kebahagiaan atas kondisi 'saling menerima' itupun tidak selalu terlihat oleh orang lain. Jangan lupa, bahwa orang lain lebih suka melihat apa yang ingin mereka lihat, bukan apa yang benar-benar tersirat dan tersurat.

Dan pengalaman dari hubungan terakhir saya mengajarkan bahwa 'penerimaan' itu bukan hal yang bisa diminta dari pasangan. Tetapi itu adalah kesadaran pribadi dari seseorang untuk melakukannya. Jika hanya salah satu saja yang melakukan, maka tidak akan bisa berjalan. Walaupun dengan berton-ton kata 'i love you' yang diberikan.

Semoga, ketika suatu saat saya ditakdirkan untuk hidup bersama seseorang (entah siapa, di mana, dan dengan cara apa kami dipertemukan), maka kami telah siap, bersedia, dan ikhlas dalam menerima kekurangan masing-masing dan menjalani hidup (baik nikmat maupun ujian) dengan bahagia, bersama-sama.
Bukankah tujuan hidup sebenarnya adalah untuk berbahagia dan membahagiakan orang tersayang?
Yah, setidaknya, bagi saya :)

Monggo dinikmati, berikut tulisan beliau.

KETIKA TUHAN MENGANTARKAN PAKET AMAL DI HADAPANMU..
by : Denny Siregar

"Kasihan dia sekarang.."
"Kenapa ?"


"Ibunya stroke sejak 7 tahun lalu. Dia anak satu2nya. Istrinya minta cerai karena tidak mau mengurus mertuanya. Anaknya satu, masih kecil. Dia terpaksa keluar dari kerjaan karena mengurus ibunya dan anaknya. Duh, kasihan-lah pokoknya...."


Kutatap wajah temanku. Ada guratan keprihatinan di wajahnya membayangkan kehidupan temannya. Dia merasa sangat bersyukur dengan hidupnya yang lebih baik. Aku tersenyum.

Terbayang ketika aku berkunjung ke seorang sahabat yang terkena kanker stadium akhir. Dia sudah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Tubuhnya kurus tinggal tulang. Anehnya, wajahnya ceria. Senyumnya terus mengembang.

Aku duduk disampingnya, memegang tangannya dengan jari2 yang kurus. Kami pernah melewati "masa gila" bersama. Masa ketika rasa takut itu bukan menjadi bagian dari diri kami. Masa ketika kami sama sekali tidak berfikir.

"Kamu tahu, den.." Katanya lemah. "Banyak orang yang memandang kasihan padaku. Mereka menganggap apa yang aku alami adalah musibah. Kata-kata mereka mencoba menghiburku. Tapi apa yang harus dihibur ? Aku sedang gembira..."

Aku tersenyum. Begitulah sahabatku. Sisi pandangnya selalu menarik untuk disimak.

"Tidak banyak orang tahu, bahwa sakit, kemiskinan, kepedihan, kesulitan adalah cara Tuhan untuk mengikis dosa2 yg selama ini kita lakukan. Seandainya mereka tahu, bahwa penyakit itu adaah anugerah, maka mereka tentu menyambutnya dengan gembira.

Bayangkan, dosa2 dikikis di dunia supaya ringan siksa kita di alam kubur nanti, yang kita tidak bisa membayangkan seberapa keras tekanannya. Betapa mulyanya. Tentu saja aku menjadi gembira. Kamu belum tentu semulya aku sekarang, karena pengikisan dosaku jauh lebih cepat dari kamu... "

Aku tersenyum. Berat rasanya kelopak mataku. Ada embun yang menggantung disana. Bukan karena sedih, bukan. Karena aku sangat kagum akan cara pandangnya dengan dasar ilmu yang kuat.

"Dan dia..." Temanku memandang ke istrinya yang tersenyum di pojok kamar meihat kami berdua ngobrol bersama. "Dia paham, bahwa aku adalah ladang amal-nya yang harus dia jemput. Aku adalah poin2, bonus yang dia kumpulkan untuk bekal perjalanan dia di alam kubur nantinya. Kesabaran dan keikhlasan dia merawatku menjadi penyelamat dia nantinya. Tuhan memberiku sakit sebagai pengikis dosaku, dan Tuhan mengirimkan aku dalam kondisi sakit kepada istriku sebagai "paket amal" yang diantarkan langsung ke depannya untuk dia kumpulkan..."

Temanku menoleh kepadaku. "Hebat, bukan ?" Senyumnya tidak pernah kulupakan. Senyum terakhir yang aku rekam dalam otakku saat aku mengantarnya berbaring di kegelapan kubur. Ketika satu persatu tanah dimasukkan ke liangnya, istrinya terduduk ditanah dengan tangis yang tertahan.

Aku merasa itu tangis kegembiraan karena ia berhasil mengumpulkan poin amal sebanyak2nya yang dikirimkan Tuhan kepadanya.

Ah, aku baru teringat. Temanku dan istrinya mengambil sudut pandang akhirat dalam membaca peristiwa mereka, berbanding terbalik dengan banyak orang yang mengambil sudut pandang dunia sehingga mereka menganggapnya sebuah musibah.

Selamat jalan, sahabatku.. Di perjallanan kedua nanti, semoga engkau sudah menyiapkanku secangkir kopi untuk menemani kita bercerita.

"Dunia adalah tempat amal tanpa perhitungan, dan akhirat adalah tempat perhitungan tanpa amal" - Imam Ali as.